Dengan Syllabus dan Pengajaran 1 Jam Sehari

Metode ini mengajarkan tentang cara membaca Al Quran Doa dan Sunnah Hafalan Hadist Hafalan Al Quran Pendidikan Islam Sirah dan bahasa Arab.

SOLUSI UNTUK MEMBANGUN KARAKTER ANAK

Mendidik Anak menuju Sifat Sholeh dan Pengamalan Taqwa .

DENGAN SYLLABUS BERJENJANG YANG BERMUTU

Didukung Metode Pengajaran Yang Tepat. Pengaturan Waktu Pegajaran. Dan Support System Pusat Bagi Center dan Maktab Wilayah

PELATIHAN SYSTEM DAN METODE PENGAJARAN

GUNA OPTIMALISASI PROGRAM UNTUK HASIL YANG MAKSIMAL METODE DEENIYAT INDONESIA.

PUBLIKASI PENGEMBANGAN MELALUI SEMINAR

MEMBERIKAN INFORMASI DAN PROBLEM SOLVING ATAS KEMUNDURAN PENGAJARAN DINIYAH ISLAM DI INDONESIA.

Sabtu, 24 November 2012

Seminar dan Pelatihan 2 Hari di Masjid An Nuur Bio Farma

Assalamu alaikum Wr Wb, Deeniyat Indonesia akan mengadakan Free SEMINAR Metode "1 Jam Membangun Karakter Islami Anak 4-20 Tahun"  Kegiatan ini terbuka untuk umum dan tanpa dipungut biaya (Gratis). Jika anda adalah Orang Tua yang ingin buah hatinya dapat terbina Karakternya secara Islami, Pengajar atau pendidik, Guru, Pengurus Madrasah/TPA, Pemilik Yayasan, atau siapa pun yang peduli dengan perkembangan Pendidikan Islam Anak Indonesia yang menghasilkan karakter dan penghayatan Ilmu Agama dengan wujudnya pengamalan Qur'an dan Sunnah dalam kehidupan, maka anda wajib mengikuti Acara ini!
                 

      Daftarkan diri anda! Terbatas u/ 50 Peserta, Konfirmasi sekarang juga!
      Pendaftaran dapat melalui : 
      1. Sms : Ketik Daftar_SDB # Nama Lengkap # Laki/Perempuan # Mewakili #Alamat
      Kirim ke : 0813-2058-7686 ( Ust. Dhani Ramdany)
    

Tujuan dari kegiatan ini adalah :
1.       Menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat pentinya Pendidikan Islam Anak sejak dini (4 tahun) bahkan hingga usia dewasa (20 tahun)
2.       Mempersiapkan orang tua – pengajar – lembaga pendidikan untuk dapat memulai kerjasama memulai dan meningkatkan program membangun karakter Islami anak.
3.       Memberikan penyuluhan sarana atau metode yang mendukung Pendidikan Islam Anak sejak dini serta bagaimana membangun  karakter anak  secara Islami.
4.       Mendekatkan System /Metode Pengajaran Diniyah kepada Masyarakat baik di kalangan menengah bawah maupun kalangan menengah atas.
5.       Mendukung  dan membantu Program Pemerintah (DepAg) dalam sosialisasi Program “GEMMAR Mengaji” (Gerakan Masyarakat Maghrib Mengaji)

Adapun Pokok Bahasan Utama Training adalah :
A.      Pentingnya memperhatikan Pendidikan Islami Anak
B.      Upaya membentuk kerjasama dalam hal membangun karakter islami anak antara : Pengajar  dengan Orang tua,  Pengajar kepada Siswa, Orang tua kepada siswa, dan Masyarakat sekitar.
C.      Pengenalan Metode Deeniyat sebagai sarana dan solusi membangun karakter Islami Anak sejak dini.
D.      Pelatihan sistem dan metode pengajaran :
-          Kelemahan dan permasalahan umum Pendidikan Diniyah
-          Syllabus 16 tahun
-          Pokok Bahasan dan 14 sub Bab
-          Metode Mengajar
-          Pengelolaan Maktab
-          Manajemen Center
-          Tugas Pengurus Center
-          Pengontrolan Maktab-Maktab
E.       Simulasi metode Deeniyat kepada siswa
F.       Konseling bagaimana memulai dan mengelola Maktab

Untuk kemaslahatan umum agar Training Metode 1 Jam Membangun Karakter Islami anak dengan Deeniyat ini dapat dirasakan manfaat bagi setiap kalangan masyarakat  Indonesia seluruhnya maka Panitia menghendaki berjalannya kegiatan tanpa menyentuh beberapa hal berikut:    
·         Politik Praktis baik dalam maupun luar negeri
·         Khilafiah , perbedaan pada Fiqih (atau bahkan Mahzab sekalipun)
·         Status Sosial (Kedudukan/Jabatan/Golongan/Organisasi tertentu)
·         Aib (Keburukan) Lembaga Pendidikan tertentu formal maupun non formal
 Kami berhajat kepada Allah agar Metode menjadi sarana dan solusi bagi kemaslahatan                            Pendidikan Islami pada Anak Indonesia umumnya, dan memohon perlindungan kepada Allah dari kesalahpahaman  yang berkaitan dengan organisasi/yayasan ataupun golongan tertentu.
Kami berharap dengan adanya Program Training ini sekaligus sebagai jalan untuk mempublikasikan kepada umum bahwa ini adalah Program Ummat Islam.


Rabu, 24 Oktober 2012

Wamendikbud: Guru Elemen Penting sebagai Agen Perubahan

Metrotvnews.com, Minggu, 21 Oktober 2012 17:33 WIB Bandung: Guru dan kepala sekolah menjadi bagian penting sebagai agen perubahan dalam proses internalisasi nilai-nilai dalam rangka pembangunan dan penguatan karakter bangsa. Demikian dikatakan Wakil Menteri Pendidikan dan Kabudayaan Prof. Dr. Musliar Kashim di Bandung, Jawa Barat, Ahad (21/10). "Moral dan sikap proporsinya lebih besar di awal-awal pendidikan. Penerapan sikap baik harus diterapkan dari awal, guru dan kepala sekolah berperan penting dalam proses internalisasi nilai dan penguatan karakter kepada generasi muda melalui penanaman nilai budaya," ujar Wamendikbud di sela-sela membuka TOT Pembangunan Karakter Bangsa pada Guru dan Kepala Sekolah di Bandung. Kegiatan "training of trainer" tersebut menjadi salah satu kegiatan dalam rangka kegiatan penanaman nilai budaya di lingkungan sekolah yang akan dilaksanakan di 10 provinsi. Kesepuluh provinsi adalah DKI Jakarta, Aceh, Banten. Jateng, Kalbar, Kaltim, Maluku, NTB, Sulsel dan Jawa Barat. Kegiatan TOT pembangunan karakter yang diikuti oleh 11 guru dan kepala sekolah se-Bandung Raya itu digelar oleh Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya Kemendikbud. "Penyelenggaraan kegiatan itu salah satunya untuk memperkuat upaya pembangunan generasi muda dalam hal ini para siswa, termasuk juga untuk menyikapi maraknya peristiwa tawuran antarsiswa yang terjadi di sejumlah kota besar," katanya. Sejak 2010, lanjutnya, unit pendidikan telah menerapkan pendidikan berbasis karakter, maka kehadiran kebudayaan diharapkan mewarnai apa yang telah dikawal oleh unit pendidikan. "Proses evaluasi dan monitoring menjadi penting," katanya. TOT pembangunan karakter bangsa pada guru dan kepala sekolah di Bandung diselenggarakan karena Bandung selama 10 tahun terakhir tidak pernah terjadi tawuran pelajar SMA. Karena itu Kota Bandung dianggap cocok sebagai kota percontohan. Wamendikbud juga mengingatkan seluruh elemen untuk mewaspadai adanya upaya-upaya yang ingin mencoreng dunia pendidikan di Indonesia dengan mengembuskan isu-isu yang negatif bagi dunia pendidikan di Indonesia.(Ant/BEY) Sumber : http://www.metrotvnews.com/metronews/news/2012/10/21/110815/Wamendikbud-Guru-Elemen-Penting-sebagai-Agen-Perubahan/3

Islam Mulai Bersemi di Tonga

REPUBLIKA.CO.ID,Jumat, 19 Oktober 2012, 17:25 WIB Islam pertama kali masuk ke Tonga pada 1983, ketika Fayaz Manu, istrinya, dan enam anaknya menjadi mualaf. Fayaz Manu memainkan peran penting dari tersiarnya Islam di Tonga. Setelah dia masuk Islam, Fayaz Manu membangun Liga Muslim Tonga dan menjadi presiden pertamanya. Untuk beberapa tahun, aktivitas keislaman dan ibadah dilakukan di ruang khusus yang disediakan oleh Raja Tonga. Lalu pada 2004, Syekh Imam Abdul Fader membangun Islamic Centre di Pulau Anana. Tanah tersebut diwakafkan oleh Presiden Komunitas Muslim Tonga dengan bantuan Muslim lokal. Syekh Imam Abdul Fader adalah pemimpin spiritual Islam di Tonga. Dia hidup pada 1980- an dan menikah dengan seorang penduduk Tonga yang telah masuk Islam. Dia memiliki tujuh anak. Setelah itu, mereka bekerja dan hidup di Selandia Baru dan Australia hingga 2004. Setelah kembali ke Tonga, dia membangun Islamic Centre tersebut. Bangunan itu terdiri atas tempat shalat berjamaah dan sebuah sekolah. Di sana, Syekh Imam mengajar anak-anak dengan pengetahuan dasar tentang Islam. Pada 2008, Liga Muslim Tonga berganti nama menjadi Relasi Muslim Tonga dengan presiden pertamanya Mohammed Abdul Razak. Komunitas ini bertujuan meningkatkan pengetahuan Islam di antara Muslim Tonga. Mereka menyediakan kelas Islam dan Alquran untuk Muslim di kepulauan tersebut, baik bagi orang dewasa maupun anak-anak. Pada 2010, berdiri masjid pertama di Tonga yang dibangun atas bantuan dana asing. Masjid baru tersebut diberi nama Masjid Khadijah dan berlokasi di ibukota kepulauan Nuku’alofa. Setelah tidak ada jalan untuk mendapatkan pendidikan Islam di Tonga, Fayaz Manu mengirim anaknya, Ilyas Manu, untuk belajar Islam di Kampus Muslim Suva dan Madrasah di Masjid Toorak, Fiji. Pendidikannya didukung oleh Liga Muslim Fiji. Setelah itu, dia masuk Universitas Masyarakat Islam di Libya. Di sana dia mendapatkan gelar sarjana Arab dan Studi Islam pada 1992. Setahun setelahnya, pada 1993, Ilyas ditunjuk sebagai imam di Komunitas Muslim Tonga. Pada 1996, dia menghadiri kursus imam di Lembaga Dakwah Islam Regional Asia Tenggara dan Pasifik (RISEAP) bersama dengan tiga orang Muslim dari Kepulauan Solomon, Papua Nugini, dan Vanuatu. Dia mendapatkan gaji bulanan dari Liga Muslim Dunia yang berkantor di Melbourne, Australia. Sejak ditunjuk menjadi imam bagi Muslim Tonga, Imam ilyas mengadakan kelas Alquran setiap hari, mengimami shalat, dan memberikan khotbah saat shalat Jumat. Dia juga mengadakan diskusi dengan orang-orang non-Muslim dan secara teratur mengunjungi rumah-rumah mereka sebagai bagian dari aktivitas dakwahnya. Pada 14 Februari 2011, Imam Ilyas mengunjungi RISEAP untuk meningkatkan hubungan dan kerja sama dengan organisasi tersebut. Dalam pertemuan besar RISEAP yang digelar di Kuala Lumpur, dia menyatakan, Muslim di Tonga masih membutuhkan bantuan dari segi pendidikan dan dakwah Islam. Banyak Tantangan Mengadang Komunitas Muslim Tonga menghadapi banyak tantangan dalam menumbuhkan Islam dan mempertahankannya. Isu utamanya adalah pendidikan Islam. Hingga sekarang, tempat satu-satunya untuk mendapatkan pembelajaran Islam bagi anak-anak hanyalah masjid dan Islamic Center. Pada April 2007, sebuah sekolah asrama Muslim dibangun di Tongatapu. Sekolah ini khusus melayani para yatim piatu yang berasal dari pulau-pulau yang terisolasi dan kampung-kampung terpencil. Di sana mereka bisa tinggal tanpa dipungut biaya. Sekolah tersebut melaksanakan kurikulum yang sama dengan sekolah Tonga pada umumnya, namun dengan tambahan mata pelajaran, seperti bahasa Arab dan studi Islam. Anak-anak non-Muslim tidak dipaksa untuk mempelajari mata pelajaran tersebut. Mereka juga tidak dipaksa untuk masuk islam. Kemudian, Abdul Rahim, pekerja dakwah yang berdedikasi sekaligus pengacara di Selandia Baru, mengunjungi Tonga secara reguler. Selama kunjungan tersebut, dia memberikan kuliah Islam untuk warga Muslim. Dia juga memberikan buku-buku dan bacaan untuk meningkatkan pengetahuan mereka. Namun, ini saja tidak cukup untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang Islam. Apalagi, jumlah Muslim Tonga masih sangat sedikit. Ditambah lagi, adanya tekanan dari keluarga dan minimnya dukungan dari organisasi Muslim di dunia. Akibatnya, sejumlah individu yang memeluk Islam, lalu hilang minatnya dan kembali masuk Kristen.

Di Sekolah Ini, Anak-anak Cechnya Wajib Belajar Islam

REPUBLIKA.CO.ID, GROZNY -Selasa, 23 Oktober 2012, 17:01 WIB- Di sebuah madrasah di Cechnya atau dikenal Sekolah Nomor 20, kegiatan belajar mengajar berlangsung seperti biasa. Siswa laki-laki dan perempuan duduk secara terpisah. Seluruh siswi mengenakan jilbab. Suasana sempat ramai sebelum seorang guru datang memasuki kelas. "Apakah anda telah menunaikan shalat subuh?" tanya Islam Dzhabrailov (21 tahun) bertanya kepada anak didiknya, Selasa (23/10). Dzhabrailov mengatakan menunaikan shalat sama pentingnya ketika seorang siswa mengerjakan pekerjaan rumah. Dzhabrailov adalah satu dari 420 guru yang mengajar pelajaran sejarah di sekolah tersebut. Sekolah itu merupakan wujud upaya pemimpin Chechnya, Ramzan Kadyrov, menekan aksi fundamentalis dengan menerapkan pendidikan Islam di sekolah. Seluruh siswa diwajibkan untuk mengikuti pendidikan Islam. Program itu terfokus pada sejarah Islam dan bagaimana berperilaku sebagai Muslim. Awal tahun ini, Kadyrov meminta Direktur Sekolah Menengah dan Perwakilan Keagamaan untuk menerapkan program itu dengan harapan anak-anak sekolah memahami arti sebenarnya dari Islam. "Anda harus memahami ini adalah tanggung jawab besar," katanya. Cegah Ekstrimisme Di Sekolah Nomor 20, Dzhabrailov menilai kebijakan pendidikan bertujuan menempa pendidikan moral dan spiritual. "Kami memiliki kemampuan untuk mengontrol penampilan siswi di sekolah," kata dia. Meski demikian, tanpa ada kebijakan itu pada dasarnya siswa Cechnya memiliki ketertarikan mempelajari Islam. "Saya senang mempelajari Islam. Dulu saya tidak membayangkan diri saya mengenakan jilbab. Tapi saya mulai terbiasa," kata Malika, salah seorang siswi Sekolah Nomor 20. Menurut Dzhabrailov, penerapan pendidikan Islam dapat mencegah penyebaran ajaran fundamentalisme agama. "Kami tidak mengajarkan Islam radikal. Kami tidak membatasi kebebasan siswa tapi itulah yang diterapkan Cechnya untuk komunitas Muslim," ucapnya. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/10/23/mccbts-di-sekolah-ini-anakanak-cechnya-wajib-belajar-islam

Pembangunan PAUD disepakati di Lingkungan Masjid

Metrotvnews.com, Jakarta:Rabu, 26 September 2012 23:55 WIB Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersepakat dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) untuk membangun sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di lingkungan masjid. Kerja sama tersebut tercapai dalam pertemuan Ketua Umum DMI Jusuf Kalla (JK) dan Mendikbud Mohammad Nuh di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Rabu (26/9). "Saya menyampaikan kepada Mendikbud mengenai program kepengurusan Dewan Masjid ke depan yang bermanfaat terutama di bidang pendidikan," kata JK dalam konferensi pers seusai pertemuan. JK memandang peran masjid yang strategis sebagai pusat pendidikan, terutama PAUD, agar anak-anak Islam bisa sedini mungkin dapat mengenal tempat ibadahnya. "Harus diakui pemerintah mengalami kendala dalam menyediakan infrastruktur untuk mendukung PAUD dan dalam hal ini, masjid dapat menyediakannya," kata JK. Ketua Umum DMI itu mengatakan ada 800 ribu masjid di Indonesia dan sekitar 50 persen di antaranya memenuhi syarat untuk mendirikan sekolah PAUD. "Tentu tidak semua masjid bisa digunakan karena ada syarat yang harus dipenuhi, seperti punya halaman yang cukup luas atau ruangan serba guna. Tapi, saya yakin 50 persen di antaranya memenuhi syarat," ujarnya. Oleh karena itu, JK mengatakan kerja sama antara Kemdikbud dan DMI akan menjadi sinergi yang bagus untuk menumbuhkan sekolah PAUD. Sedangkan Mendikbud M. Nuh mengatakan usulan kerja sama tersebut sejalan dengan program Kemendikbud untuk meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) masyarakat terhadap pendidikan hingga 75 persen pada 2015. "Ke depannya, tidak hanya masjid, tapi juga semua tempat ibadah akan kami ajak peran sertanya untuk menumbuhkan sekolah PAUD di lingkungannya," kata M. Nuh. Menurut Mendikbud, sekolah PAUD berbasis tempat ibadah sangat fleksibel dalam waktu dekat dengan lingkungan masyarakat dan dapat menyerap lulusan nonsarjana sebagai tutor. "Tutor PAUD tidak harus memiliki S1 atau D4 seperti guru sekolah, tapi bisa lulusan SMA, D1 atau D2, sehingga tentu dapat menyerap tenaga kerja dari lulusan tingkat tersebut," katanya.(Ant/BEY) Sumber : http://www.metrotvnews.com/read/news/2012/09/26/107582/Pembangunan-PAUD-Disepakati-di-Lingkungan-Masjid/3

Kamis, 18 Oktober 2012

Pendidikan Agama untuk Keluarga

Keluarga merupakan komponen masyarakat terpenting dalam suatu tatanan kehidupan sosial. Maju dan berkembangnya sebuah peradaban manusia selalu berasal dari adanya keluarga. Seorang manusia mampu mengenal diri dan lingkungannya karena peran keluarga.
Secara internal keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak. Ayah dan ibu adalah orang tua yang harus bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup keluarga tersebut. Tanggung jawab yang paling mendasar adalah memberikan pendidikan, terutama pendidikan agama.
Sedemikian pentingnya pendidikan agama sehingga orang tua harus selektif dalam mencari dan memilih sekolah yang bermutu dan berkualitas, yaitu sekolah yang mampu mendidik dan mengajarkan, tidak saja berupa kemampuan dan keterampilan hidup, namun yang sangat signifikan adalah mendidik dan mengajarkan ilmu agama Islam yang bermutu dan berkualitas.
Ilmu agama Islam yang diajarkan sejak dini kepada anak-anak dan keluarga telah diperintahkan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Usaha untuk menjaga fitrah manusia yang sejak lahir dalam keadaan suci, akan menghasilkan anak-anak dan keluarga yang baik, mampu berbakti, dan bisa berbuat sesuai dengan tuntunan Alquran. Pemahaman yang baik terhadap ilmu agama Islam akan melahirkan generasi yang islami, kuat secara akidah dan keyakinan.
Sebagai orang tua yang bertanggung jawab pada kelangsungan generasi penerus, di dalam Islam ada empat hal yang harus dilakukan. Pertama, memberi nama yang baik. Dengan kelahiran anak dalam keadaan fitrah (suci), sebaiknya orang tuanya segera memberikan nama sebagai sebuah identitas resmi. Memberi nama harusnya dipikirkan dengan cermat, karena nama adalah doa yang menjadi panggilan dalam kehidupan sehari-hari. Nama yang baik dapat memberikan semangat anak untuk menggapai kemuliaan dan kesuksesan hidup, baik secara pribadi maupun masyarakat di lingkungannya.
Kedua, mendidik dengan penuh kasih sayang. Mendidik anak-anak dengan penuh kasih sayang merupakan tugas mulia bagi orang tua. Anak adalah amanah titipan Allah SWT. Baik-buruknya perkembangan dan perilaku anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang tua.
Satu cara yang baik dalam mendidik anak adalah dengan peran keteladanan. Mencontohkan akhlak terpuji dan terbiasa menjalankan ibadah secara berjemaah, merupakan uswah hasanah yang telah diterangkan oleh Rasulullah SAW. Misalnya mencontohkan untuk selalu salat berjemaah. Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud menyatakan, “Perintahkan anak-anakmu untuk salat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah jika mereka enggan melakukannya bila telah berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur di antara mereka.” Kewajiban orang tua untuk memerintahkan anak-anak untuk mengerjakan salat, sebuah keniscayaan bagi orang tua tersebut untuk selalu mengerjakan salat.
Ketiga, memberikan pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas menjadi harapan semua orang tua. Karena hanya dengan pendidikan yang berkualitas, anak dapat berkembang dengan baik, menjadikan anak memiliki rasa takut kepada Allah SWT, akhlak dan perilaku terpuji yang mencintai Rasulullah SWT, bangga terhadap Islam sebagai agamanya serta taat dan patuh pada orang tua.
Pendidikan yang berkualitas juga akan menempatkan generasi penerus pada derajat dan kemampuan bertahan hidup yang baik. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Mujadillah:11, yang artinya, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Keempat, menjaga kedekatan emosional. Ketika anak-anak semakin tumbuh dewasa, maka yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah menjaga kedekatan emosionalnya. Kemajuan zaman dengan era globalisasi yang sangat pesat, bisa menjadi ancaman dan peluang bagi perkembangan generasi islami.
Pada satu sisi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat mempermudah setiap aktivitas manusia, namun juga bisa membuat manusia terjerumus kepada hal-hal negatif. Orang tua sedapat mungkin selalu mengontrol setiap aktivitas anak, memberi motivasi dan dorongan semangat, ikut terlibat dalam keseharian, membimbing dan membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi anak dengan bijak dan hikmah. Menjaga kedekatan emosional dengan komunikasi yang baik, akan menjauhkan anak-anak dari pengaruh negatif kemajuan zaman yang kadang kala tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Segala upaya yang dilakukan orang tua dalam memberikan tarbiyatul aulad (pendidikan agama Islam) yang bermutu dan berkualitas, tidak hanya menjadi tanggung jawab pribadi per orang, karena ada beberapa faktor yang menjadikan sistem pendidikan berhasil dengan baik. Keluarga, dalam hal ini orang tua sangat signifikan perannya, selain itu lingkungan, bisa masyarakat, bangsa dan negara juga memiliki peran yang sangat strategis.
Peradaban yang tinggi dan mutakhir sebuah bangsa dan negara, selalu diawali dengan adanya peningkatan kualitas pendidikan bagi generasi mudanya. Dengan menjadi pendidik yang baik bagi generasi muda, maka orang tua, masyarakat, bangsa dan negara telah melakukan tugas dan tanggung jawab mulia, yang kesemuanya akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT.
Marilah kita laksanakan tugas dan tanggung jawab kepada generasi penerus, umat, bangsa, dan negara, agar kita termasuk kelompok manusia yang berperadaban baik dan mulia. Sehingga tatanan kehidupan bermasyarakat, bangsa, dan negara kita tercinta ini sesuai dengan ajaran Islam. Jauh dari pertikaian, perselisihan dan pertentangan yang membinasakan kita sendiri. Hal ini harus kita mulai dari diri sendiri, keluarga dan masyarakat terdekat kita. Semoga. Wallahu ‘alam bishawab.


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More